Jumat, 16 Januari 2009
Restorasi Budaya Politik Doktrinasi Omek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) : Kembalikan Hak Mahasiswa Untuk Memilih Tanpa Doktrin
Tragis nasib kampus yang konon diidolakan menjadi pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi dewasa ini terkontaminasi oleh aktivitas politik. Tidak hanya menyerang Organisasi Ekstra Kampus (Omek) dan Intra Kampus tetapi juga lebih dari itu organ politik sudah mencoba membius masing-masing pemikiran dan orisinalitas mahasiswa. Seolah-olah mahasiswa dijadikan alat untuk mencapai tujuan dan cita-cita golongan tertentu.
Kini banyak Organisasi Ekstra Kampus yang menjadi Promotor dan Kontributor dalam Prosesi Ekspansi Partai Politik ke dalam kampus. Hampir semua Omek sudah memiliki Jargon dan Dogmasi sendiri-sendiri sesuai dengan warna daripada Partai Politik yang menjadi afiliasinya. Hal ini membawa dampak yang begitu hebat dalam Dinamika Mahasiswa di dalam kampus. Masing-masing Omek mencoba untuk memperluas dan memperkaya diri dengan memasukkan Ideologi dan tujuan-tujuan golongan ke dalam kampus. Sehingga kondisi seperti ini menimbulkan kompetisi tak sehat antar Omek di dalam kampus, berbagai macam cara dioperasikan untuk menunjukkan kekuatan mereka masing-masing. Sehingga mereka rentan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan Eksistensi, Kekuatan dan Kekuasaan dengan cara-cara mereka yang khas. Lalu siapa yang menjadi korban??????
Tentu mahasiswa yang buta akan Politik Praktis dan kutu bukulah yang menjadi korban. Keluhan demi keluhan santer muncul dari kalangan mahasiswa jalur sebenarnya, yaitu mahasiswa yang tidak turun tangan dalam Politik Praktis. Sebagian dari mereka merasa terganggu dengan adanya polah tingkah Omek yang menjalankan Peregnasi Absurd di dalam kampus. Kasus seperti ini agaknya kurang mendapat perhatian lebih dari Birokrat Kampus, bahkan tak sedikit dari beliau-beliau menganggap ini adalah “Suatu Normalisasi Kehidupan Kampus”. Justru statement ini yang salah dan harus dirubah. Normalisasi Kehidupan Kampus bukan diindikasikan dengan aktivitas-aktivitas politik melainkan dengan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan dengan menciptakan suasana Kompetisi Ilmiah. Beberapa Teman/Kawan/Sahabat/Pejuang Omek mengatakan bahwa “Jika Tidak Ada Omek Maka Organisasi Intra Tidak Akan Jalan”. Pemikiran yang sangat konyol itu harusnya kita kubur dalam-dalam atau kita kremasi saja biar bau bangkainya tidak menular..hahahaha!! justru karena keberadaan dan campur tangan Omek yang eksesif dan kelewat batas menyebabkan kampus menjadi arena kompetisi “Tarung Bebas” dalam perebutan kekuasaan di tataran organisasi kemahasiswaan, sehingga keberadaan mereka justru malah memperkeruh kondisi Organisasi Intra Kampus dan menciptakan situasi mencekam dalam perburuan kekuasaan yang hanya semata-mata untuk mencapai tujuan golongan.
Tak khayal dengan mendapat kekuasaan dan wewenang mereka bisa dengan mudah mempengaruhi mahasiswa yang lain untuk ikut bergabung, termasuk anda Mahasiswa Baru.. kamu akan menjadi sasaran komunitas mereka!! Jika bergabung dan masuk ke dalam Black Hole tersebut kamu harus siap bekerja dengan sistem target dan di bawah tekanan (kayak sales aja), dan mungkin kamu akan menggeluti bidang yang bukan hobi dan kegemaran kamu (Mahasiswa Jurusan PGSD kok disuruh mikir Politik) ..Hahaha.. mungkin karena terlalu kental dengan aktivitas Politik Praktis sewaktu di kampus para Alumni Jurusan Keguruan setelah melepaskan almamaternya justru ikut dan terjun ke Partai Politik, sedangkan cita-cita luhur nan mulia awal masuk kuliah menjadi “Pendidik” pupus sudah. Karena semasa menjadi mahasiswa orientasi pengabdian masyarakat telah ditindih dengan orientasi kekuasaan sesaat. Suatu proses yang menyedihkan kawan!!!!! akibatnya sedikit dari mereka para alumni yang mempunyai jiwa pengabdian kepada masyarakat. Sehingga Visi dan Misi kampus yang berorientasi pada pengabdian masyarakat sesungguhnya telah diciderai oleh alumninya sendiri. Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau rakyatnya hanya disibukkan dengan politik kekuasaan semata?
Kampus yang merupakan tempat lahirnya Idealisme Pemikiran, Ide-Ide yang segar dan Orisinil agaknya sudah diracuni dengan Ikhwal Politik Praktis. Suatu proses Pemaksaan Ideologi. Kasihan mereka (baca:Mahasiswa/korban) yang telah dirampas haknya karena prosesi yang represif. Kebebasan berfikir dan jalan idealisnya ditentukan oleh politik berkepentingan sehingga mereka tak ubahnya hanya sebuah Robot Intelektual. Amat tragis ketika faham-faham Politik Praktis Omek masuk ke dalam kampus dan merusak tatanan yang indah ini lewat Organisasi Intra Kampus yang mereka anggap sebagai batu loncatan paling mujarab dalam reposisi penyebaran Doktrin-Doktrin Politis. Terkadang sering kita jumpai dalam suatu Organisasi Intra Kampus, orang-orang yang ada didalamnya adalah “Satu Misi Satu Aliran, Satu Darah Satu Jiwa ” yang mana dengan payung organisasi intra tersebut mereka menyalahgunakan wewenang dan amanah yang dimandatkan oleh Institusi/Kampus demi kepentingan pribadi/golongan. Dengan mereka mendominasi Organisasi Intra Kampus (HMJ, DMF, BEM dll) mereka dengan mudah merekrut kader-kader baru dan melakukan politisasi sesuai dengan doktrin politiknya untuk mencapai tujuan golongan.
Tentu fenomena-fenomena seperti ini bertentangan dengan SK Ditjen DIKTI No. 26/DIKTI/Kep/2002 yang berbunyi: “Melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan Partai Politik membuka sekretariat(perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di kampus.” Hal tersebut juga bisa diindikasikan sebagai pelanggaran HAM (Hak Asasi Mahasiswa) dalam menjalankan aktivitas intelektual yang mulia di kampus tanpa adanya muatan politik praktis. Harusnya hal ini sebagai pembatas yang nantinya berdampak pada evaluasi diri Omek agar tidak melanggar aturan dalam proses perkembangannya. Bukan malah menjadikan semua Omek untuk kemudian membuat/menyepakati sebuah legalitas atas nama rumusan Standart Operational Prosedure untuk konsep ekspansi aktivitasnya di dalam kampus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
berat neh... isinya...
BalasHapuslam kenal...
Saat kita mendemo/menggulingkan seorang pemimpin yang korup, itu juga bagian dari politik praktis. dan saya yakin, yang paling banyak mengurusi masalah korupsi atau kritis dalam menyikapi kebijakan pemerintah adalah organ ekstra (dan bukan organ intra) sebab gerakan organ ekstra lebih leluasa di banding organ intra.
BalasHapusAdanya SK dikti ini mirip zaman soeharto, mahasiswa sengaja digiring untuk pragmatis, hanya memikirkan bagaimana lulus kuliah dan dapat kerja (saja). Pertama biaya kuliah dimahalkan, gerak aktivis dibatasi rektor/prody, dan terakhir mahasiswa dilarang ikutan organ gerakan.
Indonesia tidak membutuhkan orang2 yang pragmatis, tp membutuhkan para pemimpin... kalau diibaratkan, kampus itu ibarat sebuah negara, setiap lulusan kampus seharusnya bukan hanya memiliki skill 'menjadi pekerja' tetapi juga memiliki skill untuk menjadi agent of changes dan memiliki skill sebagai calon pemimpin. Indonesia membutuhkan pemuda/lulusan mahasiswa yang berpikir "bagaimana memperbaiki bangsa ini" dan bukan berpikir "bagaimana saya dapat kerja"
Soal partai politik. mekanisme Indonesia memang mengatur supaya keputusan/PP/Perpu/UU yang mengatur hajat hidup rakyat Indonesia, dsb itu mutlak dihasilkan oleh eksekutif, yudikatif dan legislatif. otomatis, setiap orang yang ingin merubah indonesia lewat kebijakan HARUS masuk ke 3 ranah tersebut lewat parpol. hanya disayangkan, banyak orang parpol yang masuk ke 3 ranah diatas justru bukannya melakukan perbaikan tp sebaliknya.
soal rekruitmen terhadap parpol. saya kira itu berlebihan, seolah2 ada oknum tertentu yang merekrut mahasiswa baru untuk di 'brain wash' -di cuci otak- dan didoktrin buta.
bagaimanapun titik tekan organ ekstra adalah bagaimana menyadarkan mahasiswa (lama dan baru) bahwa tugas mereka bukan sekedar pencari kerja tp sebagai agent of changes dan sebagai calon pemimpin.
salam perjuangan
hah,,,
BalasHapuspolitik memang tai kucing sob,, barang paling kotor,, lebih dri lumpur yang kotor sekalipun.
tpi apa yang puitis dari smua itu,,,
"berkata jujur biar smua makmur"
seyokyanya kita sdar akan kpntingan yg di bwa itu..
tp kita juga hrus sadar, lumpur itu pasti mengenai tumit kita.. jdi kita hrus berfikir.. untuk suatu yang adil..
skdar sran:
selalu beraktual,, tanpa mengambil salah satu sisi,, . jika kmu mengambil slah satu sisi,, sbenarnya kita menjadi bagian dri mereka!!
tpi q lbh stuju:
omek yang yng mlakukan dotrinasi dan membtsi mahasiswa,,,,FUCK...seorang pembunuh,,,semoga cpet sdar.
coba kau tanya pada mereka yk ikut omek:
apakah kamu tidak merasa dibatasi?
slam dri arek ngalam. Univ.N.malang
wima ariya menggala/sastra indonesia
salam knal?????!!!!!