Jumat, 16 Januari 2009

Renungan seorang alienator

Sebuah episode baru akan segera kita jalani, sedikit menendang dan menggeser paradigma lama yang tak selalu berorientasi pada kebenaran yang absolute. Siklus estafet yang kurang harmonis terjadi di sela-sela dinamika para pemimpin dan calon pemimpin bangsa, seiring dengan itu tak ubahnya para komponen-komponen aktivis pergerakan maupun himpunan mahasiswa yang tergabung dalam sebuah wadah organ yang legal maupun yang tak legal sekalipun menggebrak teori, paradigma dan strategi yang awalnya menjadi roh idealisme mahasiswa. Sebuah refleksi perang dingin selalu di kampanyekan di saantero penjuru kantor komisariat. Sementara itu para rakyat hanya terdiam menunggu macan-macan penguasa menyiapkan pola-pola pembodohan dan rumus-rumus penipuan terstruktur dari penguasa hutan intelektual ini. Sebongkah kata pasrah terucap di beberapa sudut idealisme, sedangkan kegembiraan merona terpancar di wajah sebuah komunitas yang berhasil mencapai titik kulminasi dalam perburuan “Prestige&Existency”. Hukum hutan rimba dengan gamblang menjadi sebuah aktivitas biasa. Akankah ada seorang Soe Hoek Gie yang tiba-tiba bangun dari kubur dan menentang proses yang penuh dengan ketidakjelasan, dengan berteriak lantang berani berdiri diatas semua golongan dengan harapan memikirkan nasib-nasib rakyat yang tersiksa karena ulah macan-macan yang tak tahu balas budi?
By: deddy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar