Jumat, 16 Januari 2009

ABSURDITAS PENDIDIKAN (Needs and Prestige)

☻ Ironi Pendidikan Sebagai Suatu Kebutuhan

Pendidikan, sepertinya merupakan hal yang tak asing lagi terdengar dalam telinga kita. Konon Pendidikan menjanjikan jaminan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Pendidikan juga merupakan suatu keharusan yang harus dienyam bagi hampir seluruh manusia di dunia. Suatu perkara yang penting dan harus mendapatkan perhatian dan prioritas utama dibandingkan urusan yang lain dalam kehidupan bernegara yang merdeka dan memiliki falsafah luhur dalam mencerdaskan bangsa. Bahkan hak untuk memperoleh pendidikan ikut ambil bagian di dalam pancasila dan UUD’45 secara komplek serta diatur sedemikian rapi oleh negara di dalam Undang-Undang.
Pendidikan seyogyanya menjadi sebuah kepentingan yang dinomersatukan oleh negara dalam menopang pertumbuhan dan perkembangan bangsa di semua bidang terutama dalam masa transisi indonesia menjadi negara maju. Kesuksesan pendidikan niscaya terwujud tanpa melibatkan komponen utama pendidikan baik subyek didik,pendidik, maupun lingkungan pendidikan yang memadai dan menunjang kelangsungan proses pendidikan. Tak asing bagi para orang tua yang selalu menginginkan yang terbaik dalam urusan pendidikan untuk anak-anaknya. Tak hanya tenaga tapi juga seluruh materi dipertaruhkan agar si anak bisa merasakan bangku sekolah dan pendidikan setinggi-tingginya. Menjadi suatu tanggungjawab dan kewajiban yang besar bagi negara untuk menjamin dan melaksanakan pendidikan bagi rakyatnya. Hal ini tercover dalam program pemerintah di bidang pendidikan melalui Wajib Belajar (Wajar).
Tetapi dewasa ini budaya menggeser kita jauh dari hakekat pendidikan yang sebenarnya. Pendidikan serasa sulit dan semakin sulit dicapai dan dirasakan bagi sebagian besar rakyat indonesia. Makin banyak anak-anak indonesia yang putus sekolah dengan alasan tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sekolah dan keadaan ini semakin hari semakin parah hingga pantas kita katakan kalau pendidikan saat ini mencapai titik yang sangat menyedihkan. Semakin hari semakin bertambah anak yang putus sekolah dan meninggalkan bangku sekolah. Keadaan ekonomi menjadi petasan mengerikan yang menghancurkan harapan para calon pemimpin bangsa tsb. Kebijakan pemerintah yang konon menawarkan solusi agaknya tak sedikitpun menggeser wajah pendidikan tetapi justru malah menjadi formulasi legimatif yang bernuansa fiktif sehingga hal itu tak membuat nasib anak-anak putus sekolah kunjung membaik. Program Wajar, subsidi pendidikan, Dana Bos, Beasiswa-beasiswa sepertinya belum menjadi langkah solutif dalam mengatasi masalah pendidikan bangsa. Program wajar sudah lama di gemborkan tetapi masih banyak anak-anak indonesia yang putus sekolah, subsidi pendidikan yang di kucurkan 20% dari APBN juga belum sampai dirasakan oleh semua anak-anak Indonesia, mungkin karena terlalu teganya aparat birokrasi yang memotong dan memungut dana yang sebenarnya bukan hak mereka. Tak jauh beda dengan Dana BOS yang baru-baru ini di sahkan oleh pemerintah. Dana milyaran rupiah yang diperuntukkan oleh para anak didik kita malah disantap oleh sebagian birokrat yang sangat tega terhadap nasib pendidikan bangsa yang semakin memburuk. Ya Tuhan!! Apakah bangsa ini sudah Engkau murkai hingga tega melukai dirinya sendiri. Sepertinya hilang sudah Roh pendidkan yang bermuatan sosial kemanusiaan di negeri ini juga kepedulian akan hakekat tujuan pendidikan yang sebenarnya. Seakan-akan potret seperti ini tidak mengakibatkan kesedihan dan memicu munculnya alternatif-alternatif baru yang semestinya harus di tawarkan kepada semua pihak yang peduli akan nasib pendidikan di negeri ini. Disisi lain suatu kekonyolan bila orang tua lebih pusing dengan masalah ekonomi keluarga seperti naiknya harga sembako, BBM dll daripada harus memikirkan nasib dan tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Mereka belum sepenuhnya sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya yang sebenarnya adalah merupakan investasi yang berharga dan bakal calon harapan keluarga untuk kelak bisa mencapai suatu kemakmuran hidup yang lebih baik. Hal ini yang kiranya perlu disadari oleh para orang tua dan pemerintah. Perlu adanya kesadaran yang maksimal dan menyeluruh dalam memandang betapa pentingnya pendidikan. Menjadi kewajiban kita bersama untuk menekan dan mengentaskan nasib pendidikan negeri ini yang sangat tragis. Selanjutnya peran negara, Pemerintah, orang tua, masyarakat pendidikan dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mengkampanyekan peduli pendidikan dan secara bersama-sama mengawasi perkembangannya dalam rangka untuk menyukseskan pendidikan nasional sehingga cita-cita pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud secara merata dan komprehensif, bukan hanya menjadi kamuflase dan wacana pasif belaka.



☻ Ironi Pendidikan Sebagai Prestige Orientation

Fenomena pendidikan indonesia serasa dikebiri dari hakekatnya. Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agaknya kurang tepat kita teriakkan jika melihat beberapa kasus pendidikan yang selalu saja bermunculan. Misalnya saja kasus pendidikan yang hanya sebagai legitimasi untuk mengangkat derajat serta harga diri seseorang di masyarakat. Pendidikan adalah sebuah proses. Ini yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang. Banyak dari para orang-orang berduit sebagai anak didik yang dewasa(baca: mahasiswa) dengan mudah memperoleh ijazah dengan jalan yang tak sesuai dengan moralitas pendidikan dengan tanpa harus susah-susah menempuh proses perjalanan pendidikan yang sesuai ketentuan dan prosedural. Budaya instantisasi seperti ini benar-benar telah menciderai hakekat pendidikan yang luhur dan tentunya memperburuk wajah pendidikan di indonesia. Hanya karena semata-mata ingin mendapatkan gelar yang merupakan modal utama untuk menaikkan harga diri seseorang yang absurd di masyarakat. Pendidikan bukan barang yang mudah dibeli di setiap kios yang disebut sekolah(baca: perguruan tinggi). Tetapi lebih tepatnya pendidikan merupakan sebuah proses perjuangan meraih kemulyaan atas ilmu yang bermanfaat dan tidak semudah itu didapatkan. Budaya instantisasi dalam wujud membeli ijazah hanya semata-mata untuk meningkatkan existency seseorang di masyarakat inilah yang harus kita perangi mulai dari sekarang. Sudah waktunya pendidikan berorientasi pada quality of product dengan menitikberatkan pada proses pendidikan yang sebenarnya. Menghilangkan budaya instant yang merupakan peranaan dari globalisasi praktis dan kapitalisasi pendidikan tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu diciptakannya kesadaran dari pemerintah, masyarakat serta komponen pendidikan akan sakralisasi makna yang terkandung dalam proses pendidikan yang penuh dengan perjuangan untuk bisa mendapatkannya. Langkah tegas nan kongkret dari pemerintah serta kerjasama dari berbagai pihak dalam kesadaran pendidikan untuk menertibkan mekanisme pendidikan agar instantisasi dan desakralisasi pendidikan tidak terjadi di indonesia, merupakan faktor penting utama dalam usaha menjaga dan melaksanakan pendidikan yang berkualitas dan mencerdaskan kehidupan bangsa. (pembantudekan3@gmail.com)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar